Rabu, 16 Februari 2022

Mahasiswa agent of change dan social of control Dimasa Pandemi Covid - 19

 

Oleh : Eki Rios Cipta Agung

Pandemi Covid-19 adalah peristiwa menyebarnya Penyakit koronavirus 2019 (Coronavirus disease 2019, disingkat Covid-19) Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2. Wabah Covid-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Hubei, Tiongkok pada tanggal 1 Desember 2019, dan ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020. Hingga 14 November 2020, lebih dari 53.281.350 orang kasus telah dilaporkan lebih dari 219 negara dan wilayah seluruh dunia, mengakibatkan lebih dari 1.301.021 orang meninggal dunia dan lebih dari 34.394.214 orang sembuh. (Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Pandemi_Covid-19_di_Indonesia)

Virus SARS-CoV-2 diduga menyebar di antara orang-orang terutama melalui percikan pernapasan (droplet) yang dihasilkan selama batuk. Percikan ini juga dapat dihasilkan dari bersin dan pernapasan normal. Selain itu, virus dapat menyebar akibat menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh wajah seseorang. Penyakit Covid-19 paling menular saat orang yang menderitanya memiliki gejala. Periode waktu antara paparan virus dan munculnya gejala biasanya sekitar lima hari, tetapi dapat berkisar dari dua hingga empat belas hari.

Gejala umum di antaranya demam, batuk, dan sesak napas. Komplikasi dapat berupa pneumonia dan penyakit pernapasan akut berat. Tidak ada vaksin atau pengobatan antivirus khusus untuk penyakit ini. Pengobatan primer yang diberikan berupa terapi simtomatik dan suportif. Langkah-langkah pencegahan yang direkomendasikan di antaranya mencuci tangan, menutup mulut saat batuk, menjaga jarak dari orang lain, serta pemantauan dan isolasi diri untuk orang yang mencurigai bahwa mereka terinfeksi. Upaya untuk mencegah penyebaran virus corona termasuk pembatasan perjalanan, karantina, pemberlakuan jam malam, penundaan dan pembatalan acara, serta penutupan fasilitas.

 Sejak Covid-19 pertama kali masuk ke Indonesia. Kasus-kasus baru terus bermunculan dan sudah banyak orang yang menjadi korban. Pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda akan berakhir dalam waktu dekat ini. Sudah banyak sekali cara yang digunakan dalam menangani penyebarannya, mulai dari pembuatan kebijakan kepatuhan masyarakat, pembuatan protokol kesehatan, dan upaya pembuatan vaksin, tetapi masih belum bisa terselesaikan sampai sekarang. Pada tanggal 22 september 2020, dilaporkan bahwa jumlah kasus corona di Indonesia sudah mencapai 248.852 dengan 9.677 kasus meninggal. Sedangkan, jumlah kasus pasien yang telah dinyatakan sembuh sebanyak 180.797 orang

Seiring bertambahnya jumlah kasus, rumah sakit rujukan Covid-19 sudah mulai kewalahan karena keterbatasan fasilitas dan SDM yang dimilikinya. Hal yang paling ditakutkan adalah ketika kapasitas pasien di RS sudah penuh sehingga tidak lagi bisa menerima pasien untuk mendapatkan pelayanan secara layak. Di Jakarta, tepatnya pada tanggal 11 September 2020, tercatat total ada 727 tempat tidur ICU di 67 rumah sakit rujukan Covid-19. Namun, sudah terpakai sebanyak 460 tempat tidur. Kemudian, tersedia 5.314 tempat tidur di ruang isolasi namun sudah terpakai 3.151 tempat tidur di 67 rumah sakit rujukan Covid-19  (BNPB, 2020). Selain masalah itu, meninggalnya banyak tenaga kesehatan terutama perawat juga memberikan dampak yang luas. Karena, jumlah kasus yang terus bertambah akan membuat tenaga kesehatan semakin bertambah beban kerjanya, terlebih jika harus kekurangan tenaga profesional keperawatan.

Mahasiswa sebagai golongan orang terpelajar memiliki banyak peran yang bisa mereka lakukan. Peran tersebut diantaranya sebagai agent of change dan social of control. Mahasiswa juga bisa menjadi golongan yang membantu dalam proses penangana Covid-19 terutama bagi mahasiswa keperawatan. Cara yang bisa dilakukan yaitu dengan memberikan tindakan promotif dan preventif kepada masyarakat agar memiliki pemahaman yang baik terkait keadaan pandemi saat ini. Partisipasi  yang diberikan mahasiswa keperawatan ini sedikit banyaknya akan dapat meringankan beban para perawat. Selain itu, mahasiswa keperawatan juga bisa merasakan perjuangan profesinya yang saat ini berjuang sebagai garda terdepan dalam penanganan pasien Covid-19.

Selanjutnya, yang bisa dilakukan mahasiswa keperawatan dalam memberikan kontribusinya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat yaitu melalui program-program yang disediakan oleh Kemendikbud RI seperti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Program Holistik Pembinaan dan pemberdayaan Desa (PHP2D). Kedua program ini merupakan program yang ditujukan agar mahasiswa mampu menjalankan perannya dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran; Penelitian dan Pengembangan; Pengabdian kepada Masyarakat. Hal ini bisa menjadi kesempatan bagi mahasiswa keperawatan untuk membuat program yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa akan mendapatkan dukungan lebih dalam memberikan kontribusinya pada masyarakat, terkhusus dalam membentuk kesadaran masyarakat terhadap Covid-19. 

Peran mahasiswa di era pandemi Covid-19 sangat besar. Salah satu yang bisa dilakukan oleh mahasiswa, adalah melakukan sosialisasi dan edukasi protokol kesehatan pencegahan Covid-19.  berbagai kegiatan yang bisa dilakukan para mahasiswa, seperti: sosialisasi penggunaan masker, cuci tangan, sosialisasi jaga jarak fisik. Termasuk juga menggalang bantuan sosial secara mandiri untuk masyarakat yang terdampak ekonominya akibat pandemi, serta melakukan program membagikan masker. khususnya mahasiswa di bidang kesehatan bisa bertindak membantu pemerintah sebagai relawan untuk melakukan vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat. Kurang lebih sebanyak 140 juta orang akan diberikan vaksin untuk tahap pertama. Termasuk para dosen, para guru, dipriortiaskan untuk menerima vaksin pertama. Target yang ditetapkan untuk diberikan vaksin adalah sebanyak 70 persen penduduk Indonesia. dilakukan sebagai upaya untuk membangun Herd Immunity (Imunitas Kawanan atau mereka yang sudah tidak mempan oleh virus corona Covid-19), agar masyarakat Indonesia bisa terlepas penuh dari Covid-19.

Banyak cara yang bisa kita lakukan sebagai peran mahasiswa dimasa pandemi Covid-19 tidak hanya mahasiswa keperawatan tetapi mahasiswa lain juga bisa berkontribusi dimasa pandemi covid-19. Bentuk gotong royong relawan mahasiswa kesehatan menghadapi pandemi Covid-19 merupakan implementasi di masyarakat bahwa kegiatan belajar-mengajar tidak harus dilaksanakan di dalam kelas ataupun laboratorium. Mahasiswa dapat turun langsung sebagai relawan, memahami permasalahan langsung di lapangan, memberi solusi, dan melayani masyarakat. Program seperti relawan ini bisa disetarakan dengan SKS. Karena esensinya mahasiswa relawan dapat berpartisipasi langsung di masyarakat akan mendapat nilai positif.

Kita perlu menjaga semangat kesukarelaan, gotong royong, bela negara, dan nasionalisme selama menghadapi wabah pandemi Covid-19. Tetap semangat dalam melaksanakan tugas sebagai relawan, menjaga kesehatan, lindungi diri jika harus turun ke lapangan, jangan ragu bertanya kepada dosen, profesor, guru pembimbing ketika ada hal yang tidak bisa diatasi sendiri. Istirahat jika lelah dan jangan memaksakan diri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sumbangsih Mahasiswa Bagi Negeri Dikala Pandemi

 Oleh : Sehibul Azis Pandemi Covid-19 telah merubah tatanan kehidupan di Indonesia, bukan secara Nasional saja    melainkan secara global ...