Oleh : Ika Ruliyanti Rukmana
Hoaks (Hoax) atau berita bohong adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya, dengan tujuan membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan. Dalam kebingungan ini masyarakat akan mengambil keputusan lemah, bahkan keputusan yang salah. Hoaks di masa pandemi ini semakin menggila akibat suatu kesengajaan yang dibuat secara terstruktur oleh pihak tertentu demi kepentingan tertentu. Berawal dari satu berita bohong yang selanjutnya menyebar ke seluruh negeri.
Menyambung hoaks dengan Covid-19, pada saat awal Covid-19 yang merebak di Wuhan, Cina tersampaikanlah informasi di media sosial berupa video yang menunjukkan orang yang tiba-tiba jatuh (pingsan) di jalanan karena Covid-19, bahkan ada juga yang mengatakan bahwa saat virus itu datang, manusia-manusia akan seperti ikan yang membutuhkan air, tergelepar, sulit bernafas dan mati di jalanan. Saat belum ada konfirmasi lebih lanjut dari WHO (World Health Organization) atau keluarga korban, masyarakat sudah berasumsi bahwa orang tersebut jatuh atau pingsan, bahkan meninggal karena terkena Virus Covid-19. Namun, sampai saat ini belum juga ada konfirmasi maupun bukti bahwa mereka terkena Virus Covid-19 yang terjadi di Wuhan, Cina.
Corona Virus Disease atau lebih dikenal dengan Covid-19 bermula terjadi di Kota Wuhan, Cina. Virus ini menyebar melalui droplet dan kontak langsung. Penyebaran virus ini sungguh meningkat dengan pesat. Covid-19 telah menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Keadaan yang tak pernah terpikirkan akan mewabah keseluruh dunia, menjadi perbincangan seluruh umat manusia. Pandemi ini telah melumpuhkan berbagai sektor kehidupan di berbagai negara. Saat ini seluruh penduduk dunia merasa khawatir dan was-was akan datangnya virus mematikan ini. Di Indonesia sendiri, tercatat hingga Juli 2021, pandemi Covid-19 ini telah berlangsung lebih dari satu tahun. Dari merdeka.com perkembangan Covid-19 di Indonesia sampai dengan tanggal 20 Juli 2021, tercatat kasus positif Covid-19 mencapai 2.950.058 kasus. Sebuah angka yang fantastis, mengingat banyaknya orang terpapar Covid-19 yang berarti banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan keluarga.
Sejak kasus Covid-19 memuncak di Indonesia pemerintah telah melakukan upaya dengan diadakannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang cukup berpengaruh pada menurunnya angka kasus Covid-19 di Indonesia. Namun, masyarakat menjadi lengah, bahkan lupa bahwa Covid-19 ini belum berakhir. Hingga akhirnya pemerintah memperpanjang masa PSBB itu. Selama masa PSBB, pemerintah menganjurkan agar masyarakat tidak banyak keluar rumah, bahkan di media sosial telah menaikan tagar #Dirumahaja. Sejak masa PSBB masyarakat lebih cenderung menggunakan media sosialnya untuk menghilangkan kejenuhan. Menurut laporan perusahaan media asal Inggris , We Are Social pada bulan Januari 2021, mengungkapkan rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam sehari untuk mengakses media sosial. Dari total populasi Indonesia sebanyak 274 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta jiwa. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia sama dengan 61,8% dari total populasi.
Berdasarkan We Are Social , pada Juni 2021 penggunaan media sosial naik 6,3% dari tahun lalu menjadi 61,8% pengguna media sosial di Indonesia. Berdasarkan penelitian pada 4827 pastisipan yang dilakukan oleh Gao et al. terdapat 82% partisipan yang mengonsumsi berita tentang Covid-19 di media sosial. Dengan persentase ini masyarakat Indonesia lebih mudah mengakses berita di media sosial. Sebenarnya dengan adanya pandemi ini ada sisi positif dan negatif yang bisa diambil. Begitu pula dengan berita yang ada di media sosial, ada sisi positif juga ada sisi negatif. Tergantung dari kemampuan literasi masyarakat di Indonesia. Apabila tingkat literasi masyarakat sudah cukup baik, maka mereka akan mendapatkan informasi yang akurat sehingga dapat lebih waspada dengan adanya Covid-19. Sedangkan apabila tingkat literasi masyarakat kurang baik, maka informasi yang didapatkan tidak akurat dan tidak sesuai dengan fakta, sehingga menyebabkan masyarakat yang acuh terhadap Covid-19 ini.
Namun, faktanya masyarakat Indonesia memiliki tingkat literasi yang cukup buruk, sehingga tidak dapat menyaring informasi yang tersebar dengan baik. Hasil survei dari studi Most Littered Nation In The World 2016 bahwa budaya literasi di Indonesia masih sangat rendah dan jauh tertinggal. Dari 61 negara yang diteliti tingkat literasinya, menempatkan Indonesia di urutan ke-60 setelah Bostwana. Menurut riset UNESCO, indeks minat baca Indonesia 0,001%. Dari data tersebut menjunjukkan bahwa literasi masyarakat Indonesia belum cukup baik sehingga mengakibatkan beredarnya banyak hoaks yang melebih-lebihkan pandemi ini, sehingga masyarakat lebih mudah terprovokasi tanpa mencari tahu kebenaran ataupun sumber informasi tersebut.
Menurut WHO (2020), saat ini beredar berbagai stigma sosial dalam konteks kesehatan yang berhubungan negatif antara seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kesamaan ciri dan penyakit tertentu. Dalam hal ini, berarti terdapat sekelompok orang yang diperlakukan secara terpisah karena memiliki keterkaitan dengan suatu penyakit, sehingga menyebabkan seseorang menyembunyikan penyakitnya agar terhindar dari diskriminasi. Saat ini banyak orang yang mengasumsikan bahwa demam, batuk, pilek sudah pasti itu terpapar Covid-19, karena membaca berita yang belum lengkap atau karena termakan berita hoaks belaka.
Selama masa pandemi ini banyak hoaks yang beredar karena kekhawatiran masyarakat akan Covid-19 ini. Berita hoaks ini akan menimbulkan kekhawatiran atau tekanan psikologis yang semakin meningkat, sehingga menimbulkan berbagai macam penyakit fisik yang menyebabkan lemahnya imun tubuh. Padahal, sejatinya penyakit Covid-19 ini menyerang sistem imun tubuh yang lemah. Berita hoaks tentang Covid-19 ini mulai beredar seiring dengan mewabahnya Covid-19. Hoaks yang beredar di masyarakat Indonesia seperti menggunakan masker yang menyebabkan kanker, vaksin yang menyebabkan lumpuh bahkan meninggal, Virus Covid-19 tidak mematikan, Virus Covid-19 yang hanya dianggap flu biasa dan hoaks lainnya yang memakan asumsi masyarakat sehingga masyarakat mengabaikan virus ini. Hoaks seperti ini tidak bisa dianggap sepele, karena jika berita ini tidak diserap dengan baik atau bahkan tidak dibuktikan masyarakat akan selalu berpikiran bahwa Covid-19 ini hanya penyakit biasa. Berbagai macam hoaks yang berbedar di Indonesia sungguh meresahkan dan membingungkan masyarakat.
Hoaks yang beredar di media sosial akan sangat berbahaya dibandingkan dengan Covid-19 jika pembacanya tidak konsumtif, bahkan hoaks bisa menghilangkan nyawa seseorang. Seperti pada salah satu akun twitter yang bernama @HelmiIndraRP yang membubuhkan bahwa “Ayahku Meninggal Karena Percaya Hoaks Covid-19”. Melihat dari judul saja hoaks ini sungguh menakutkan dan sangat berbahaya. Helmi mengatakan bahwa ayahnya sering mengkonsumsi tulisan-tulisan tentang Covid-19 di media sosial. Ayahnya percaya bahwa setiap orang sakit yang masuk ke Rumah Sakit akan dicovidkan, interaksi obat membuat meninggal, vaksin ada kandungan babi dari China, sehingga ketika ayahnya positif Covid-19 ia tidak ingin di bawa ke Rumah Sakit dengan alasan karena membaca berita tersebut. Tak lama ayahnya di bawa ke Rumah Sakit dan dinyatakan meninggal. Sungguh miris melihat kejadian seperti ini. Hoaks tidak bisa dipegang kebenarannya. Bahkan hoaks bisa lebih berbahaya dibandingkan dengan penyakit itu sendiri. Aktif di media memang bagus jika membaca hal yang sudah akurat kebenarannya dan sudah terbukti.
Hoaks ini beredar karena banyaknya masyarakat Indonesia yang aktif di media sosial namun, tidak konsumtif dalam menyaring informasi. Sebagai generasi milenial, mahasiswa dituntut untuk bisa mengabdi untuk masyarakat. Di masa pandemi ini, di masa darurat ini kita sebagai mahasiswa tidak bisa menjalankan aktivitas di luar ruangan seperti biasa. Di abad ke-21 ini, zaman sudah berkembang, kemajuan teknologi sangat pesat, sehingga memudahkan untuk penyebaran informasi. Selain masyarakat yang harus lebih konsumtif dalam menyaring informasi di media sosial, mahasiswa juga harus berperan aktif dalam penanganan hoaks ini.
Mahasiswa harus memiliki kreatifitas dan inovasi untuk membantu masyarakat dalam menangkal hoaks yang tersebar ini. Mahasiswa bisa membuat poster maupun leaflet, video ataupun film pendek yang berisi tentang fakta Covid-19, ajakan vaksin, ajakan untuk hidup sehat dan fakta lainnya yang sudah terbukti kebenaranya melalui penelitian. Penyebaran informasi ini bisa dilakukan di beberapa platform media sosial seperti Whatsapp, Telegram, Instagram, Twitter, Tiktok, dan lain sebagainya. Dalam penyebaran informasi tersebut, perlu bijak dalam memperhatikan kata-kata yang akan disampaikan, agar masyarakat lebih paham dan tidak salah kaprah. Alangkah lebih baik jika kita bisa memilah kata-kata yang akan disampaikan dengan memprioritaskan sasaran yang akan di capai. Menyebarkan informasi dengan menambahkan cerita inspiratif tentang pejuang Covid-19 yang berhasil pulih kembali bisa membantu meningkatkan mental masyarakat bahwa penyakit ini memang bisa disembuhkan, jika ada tekad yang kuat dari dalam diri kita. Mahasiswa juga dapat mengajukan diri atau menghubungi Satgas Covid-19 agar ambil bagian dalam program vaksinasi dan program lainnya dalam mewujudkan masyarakat terbebas dari Covid-19.
Pada keadaan yang serba darurat ini, mahasiswa bisa meringankan para tenaga kesehatan yang berjuang diluar sana dengan melakukan tindakan pencegahan dini pada diri sendiri, keluarga, lingkungan masyarakat, serta lingkungan tempat tinggal agar tetap mematuhi protokol kesehatan yang telah dicanangkan oleh pemerintah dengan menerapkan 5M yaitu, mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas. Karena bagaimanapun sebagai mahasiswa seharusnya dapat memberikan contoh dan teladan yang baik. Mahasiswa juga dapat menjadi relawan dengan menyalurkan bantuan logistik, makanan bergizi, vitamin, masker dan lain sebagainya. Bagaimanapun saat ini kita belum bisa terjun langsung untuk membantu para tenaga kesehatan di luar sana karena keterbatasan pengetahuan dan keadaaan, setidaknya kita bisa mencegah datangnya virus agar tidak semakin menyebar dan tidak semakin banyak memakan korban.
Pelaporan berita menjadi solusi paling ampuh, bukan hanya penyebaran berita tentang kasus yang terus saja meningkat, melainkan lebih memfokuskan penyebaran inforamasi terkait dengan gejala, pencegahan, serta perawatan tentang Covid-19. Pada pelaporan berita ini mahasiswa harus mendapatkan sumber yang jelas dan dapat dipercaya. Karena pada dasarnya masyarakat memerlukan dukungan dan asumsi bahwa penyakit ini bisa disembuhkan, jangan sampai fakta yang aktual, dipatahkan hanya dengan berita hoaks.
Hoaks atau berita bohong ini sangat berbahaya bahkan bisa mengancam nyawa seseorang jika tidak diserap, dipahami dan ditelaah lebih jauh lagi. Bukan pada saat terjadi pandemi saja, hoaks kapanpun akan menjadi ancaman bagi masyarakat, membuat masyarakat merasa tidak aman dan tidak nyaman, Saat ini bukan perang senjata dengan cucuran darah dan keringat, tapi perang kabar tak aktual yang terjadi di media sosial menghilangkan nyawa seseorang. Di zaman yang serba canggih ini, mahasiswa dapat turun langsung ke media sosial untuk menyebarkan informasi tentang Covid-19 yang aktual dan jelas sumbernya. Membuat poster, billboard, ataupun leaflet yang disebar dan dipasang dijalanan tentang pentingnya memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan ajakan untuk melaksanakan vaksin akan sangat membantu pemerintah dalam mengurangi kasus harian Covid-19 yang semakin melonjak. Mahasiswa dapat pula mengajukan diri ke Satgas Covid-19 untuk menjadi relawan dalam program vaksin, maupun penyaluran logistik, seperti makanan bergizi, vitamin dan sebagainya. Turut serta mahasiswa ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat agar selalu menjaga kesehatan, karena Covid-19 ini bukan penyakit biasa bahkan bisa merenggut nyawa seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar